Tak ada yang diam
Gemericik hujan yang menghujam keras daratan kering sore itu, Dengan seketika menghentikan langkah-langkah kaki yang sedari pagi hilir mudik tak pernah berhenti berjalan. Sejenak semuanya senyap dari suara-suara yang biasa, tergantikan letupan-letupan kecil air hujan yang seakan telah rindu pada tanah kering.
Saat itu seorang gadis remaja duduk termenung dibelakang tembok kaca rebuah restoran. Seakan tak mengerti, dia tak lepaskan sekejap pun pandangannya dari tetes-tetes hujan yang jatuh didekatnya. Sambil sesekali meminum sedikit coklat hangat yang terhidang di mejanya.
Dalam pikirannya terbayang langkah kaki kecilnya dulu diantara derasnya hujan. Seketika ia pun tersenyum lirih. Entah sudah berapa lama ia tak merasakan lagi butiran-butiran dingin itu menyentuh kulitnya apalagi membasahi seluruh tubuhnya.
Tak berapa lama suasana mulai berubah, suara gemericik itu kini mulai menjauh, tergantikan lagi oleh suara derap langkah kaki yang seakan marah karena tertahan oleh rintik-rintik hujan.
Seakan tak ada yang diam, kini waktu pun memaksanya untuk pergi, meninggalkan lamunan akan kenangan-kenangan manisnya. Dengan malas ia lalu melirik jam yang terkait manis di lengan kirinya.
"Ouch....", hanya ucapan itu sebelum akhirnya suara high heel sang gadis ikut menambah ramainya siang itu.
Saat itu seorang gadis remaja duduk termenung dibelakang tembok kaca rebuah restoran. Seakan tak mengerti, dia tak lepaskan sekejap pun pandangannya dari tetes-tetes hujan yang jatuh didekatnya. Sambil sesekali meminum sedikit coklat hangat yang terhidang di mejanya.
Dalam pikirannya terbayang langkah kaki kecilnya dulu diantara derasnya hujan. Seketika ia pun tersenyum lirih. Entah sudah berapa lama ia tak merasakan lagi butiran-butiran dingin itu menyentuh kulitnya apalagi membasahi seluruh tubuhnya.
Tak berapa lama suasana mulai berubah, suara gemericik itu kini mulai menjauh, tergantikan lagi oleh suara derap langkah kaki yang seakan marah karena tertahan oleh rintik-rintik hujan.
Seakan tak ada yang diam, kini waktu pun memaksanya untuk pergi, meninggalkan lamunan akan kenangan-kenangan manisnya. Dengan malas ia lalu melirik jam yang terkait manis di lengan kirinya.
"Ouch....", hanya ucapan itu sebelum akhirnya suara high heel sang gadis ikut menambah ramainya siang itu.
Komentar
Posting Komentar