Gerakan Memiskinkan Rakyat

Apakah ada pemerintah yang peduli rakyat...? Tentu jawabannya adalah `semua pemerintah peduli rakyat`, tetapi jika ke`pedulian` itu berakibat rakyat semakin miskin... tentu kita mesti mempertanyakan `kepedulian` sang pemerintah tersebut!

Mari melihat tentang si-Kaya dan si-Miskin. Siapakah sih sebenarnya mereka...? Menurut Saya pribadi kaya dan miskin adalah tergantung dari pilihan yang seseorang punyai. Si kaya adalah orang yang mempunyai lebih banyak pilihan daripada si miskin.

Loh...? bukannya si-Kaya adalah orang yang punya lebih banyak harta..?  Anda 100% betul!!!

Tapi mari kita lihat lebih dalam lagi bahwa uang dan barang alias harta yang dimiliki si Kaya adalah sebuah bonus dari pilihan yang ia ambil.

Lalu apa hubungannya  si-Kaya dan si-Miskin, pilihan dan pemerintah...?

Mari kita simak peng-hilangan pilihan yang dilakukan pemerintah dengan judul `konversi minyak tanah ke gas`. Untuk masyarakat urban yang pastinya bertaraf ekonomi menengah ke bawah (dan terus tenggelam ke bawah) tentu tak ada pilihan lain untuk memasak selain menggunakan kompor gas.

Kan masih bisa pake kayu....??? kayu dari hongkong!!! udah nyarinya susah, pas udah dapet dan lagi enak-enak masak tiba-tiba tetangga sebelah rumah,yang rumahnya nempel persis di sebelah ngomel-ngomel soal asap item.

Nah klo mati listrik... mau pake apa hayo...? mesti pake genset kah...? walopun petromak ada, lampu minyak pun tersedia, tapi gak bisa nyala soalnya minyaknya pun gak ada.

BTW klo di HAM ada gak sih kebebasan untuk memilih, dan perlindungan terhadap ketersediaan pilihan...??? Andai saja ada.

Ternyata bukan saja pemerintah yang tega me-nyunat pilihan rakyatnya, tapi tempat hiburan pun tega menyunat pilihan pelanggannya. Dengan aneka hiasan dinding yang bertuliskan `Dilarang membawa makanan & minuman dari luar`. Misalnya di bioskop 21, dan di kolam renang grage (kemaren barusan kesana) dan Saya yakin masih banyak tempat2 lainnya.

Hilangnya pilihan berarti hilangnya membuat efisiensi. artinya bikin kita boros. Jadi tak perlu lagi ada himbauan soal penghilangan budaya konsumtif.

Alih-alih mau cinta produk dalam negeri, Buat apa...??? jika ternyata stiker made in indonesia dipasang setelah melepas stiker made in hongkong.

Perlu disadari bahwa Miskin adalah hak Rakyat, mungkin para pedjabat di sono (mungkin beliau-beliau sedang di hongkong sekarang) mengidentikkan Rakyat==Miskin, jadilah mereka tetap mengusahakan agar Rakyat tetap seperti itu.

Salam

Komentar

  1. Kemiskinan struktural.

    Struktur di masyarakat lah yang membuat sebagian pihak menjadi miskin (dan seterusnya miskin)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini