Si Lebay yang Melanggar Etika

Rupanya aksi yang sangat sederhana itu mendapat perhatian yang cukup serius. Seekor kerbau yang di tulisi Si BuYa, bisa di interpretasikan SBY, atau BUAYA. Si BuYa ini memang memajang foto SBY di bokongnya. Hal yang menarik adalah bokong kerbau itu sekarang menjadi pembicaraan yang cukup panas.

Lalu apakah salah jika seseorang dan atau suatu pihak meng-identikkan Si BuYa itu dengan sosok yang terpampang di bokong sang kerbau, yaitu SBY. Sebelum berpikir Macam-Macam, mari kita cermati tentang interpretasi dengan identifikasi.
Lalu kita kaitkan dengan rasa humanisme kita.

Berkaca pada perilaku anak saya yang masih balita, Jika dia sedang marah dan merasa dirinya tak diperhatikan dan atau keinginannya tak dikabulkan. Ia pun akan berontak. Jika Menangis dianggapnya bukan lagi solusi yang cerdas, ia pun lantas ber-improvisasi dengan berbagai hal, mulai dengan membanting mainannya, menggigit hingga melempar sesuatu.

Si BuYa itu kalo menurut saya adalah sebuah bentuk kekesalan terhadap fenomena-fenomena aneh yang terjadi di kancah politik negeri ini. Kenapa orang kini lebih peduli pada hal-hal praktis, daripada esensinya. Kenapa orang lebih peduli pada Pembelian mobil mewah, tanpa ada pemahaman yang jelas dengan kegunaannya. Lebih penting mana mencermati laptop baru atau kebijakan tentang perdagangan bebas.

Ada lagi hal yang menurut saya aneh, penggunaan istilah di serang dan menyerang. Bagi saya yang Awam politik tentu konotasi serang dan diserang itu bagai dalam kancah peperangan. Artinya ada yang benar dan ada yang salah. Kalo menurut saya pribadi alangkah baiknya istilah itu diganti saja jadi 'kritik' dan 'di-kritik', kalo serang-menyerang tentu ada kawan-ada lawan. Kalo kritik-mengkritik artinya semuanya adalah satu tapi ada beberapa hal yang kurang sesuai/pada tempatnya.

Flashback lagi ke belakang tentang nilai-nilai gotong-royong yang diajarkan mulai saya SD, yang kini nampaknya telah punah di lingkaran pemerintahan. Yang nampak kini hanyalah gotong royong berlandaskan materi, alias korupsi.

Kembali ke masalah kerbau, apakah semua pihak kini mempunyai etika yang baik? apakah Etika sby sudah terbilang baik sehingga bisa mempermasalahkan etika si pembawa kerbau? apakah Etika pembawa kerbau adalah hal yang wajar dalam menghadapi situasi sekarang? Apakah lantas kita semua tidak merasa sedang menonton dua anak kecil yang sedang ejek-ejekan...?

Apa jadinya kalo mendiang GusDur berkomentar soal ini, 'Gitu aja koq lebay....'

Buaya-nya lebay, Cicak nya lebay, sekarang kebo ikutan lebay...
akh Indonesia ini semakin lebay saja, kecuali tentang pembabatan hutan, yang satu itu tak pernah lebay.. mbok ya diurusi kerusakan-kerusakan hutan yang pada akhirnya akan menyengsarakan tak hanya rakyat Indonesia.

STOP L3b4Y!

--fin

Komentar

  1. Tulisan yg menarik bu... SileBaY cuma ekspresi rakyat atas kondisi yg semakin sulit. Saya sependapat jika hal tsb salah satu cara unik agar tuntutan yg selama ini tdk pnh didengarkan menjadi kenyataan...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini